Survey McKinsey Tentang Penggunaan Layanan Keuangan Digital Di Indonesia, Ini Pembahasan DailySocial

Beberapa tahun belakangan ini di Indonesia sedang banyak berita tentang layanan keuangan digital, kamu tahu apa itu layanan keuangan digital? Layanan keuangan digital atau Digital Financial Service adalah kegiatan layanan jasa pembayaran dan keuangan yang menggunakan sarana teknologi digital seperti smartphone atau web, contohnya uang elektronik (e-money) transaksi tanpa menggunakan uang fisik atau Cashless, rekening dapat diakses melalui smartphone, dan pinjaman uang online. Semua layanan ini dilakukan dengan media smartphone dan jaringan internet. Survei tentang penggunaan layanan keuangan di Indonesia yang masih hangat dibicarakan yaitu survei dari McKinsey & Company. McKinsey & Company adalah perusahaan konsultan manajemen multinasional paling terkemuka yang membuat survei tentang layanan digital di Indonesia, menyebutkan bahwa penggunaan layanan keuangan digital di Indonesia naik pesat tetapi tidak dalam produk Fintech. 

Media penyedia informasi seputar teknologi, DailySocial membahas survey dari McKinsey bahwa pergerakan keuangan digital Indonesia mencapai 58% di tahun 2017. Sementara Fintech baru 5% di tahun yang sama. Artinya orang Indonesia masih lebih menyukai produk bank, namun pada saat yang sama produk Fintech memiliki ruang besar untuk tumbuh. McKinsey menobatkan Indonesia sebagai negara dengan penetrasi keuangan digital tercepat dari 17 negara yang disurvei. Adapun negara lain yang disurvei di antaranya Tiongkok, India, Korea Selatan, Jepang, Asia Tenggara, sampai Australia. Ada 17 ribu responden yang diambil sebagai sampelnya, termasuk diantaranya 900 responden dari Indonesia.

“Indonesia bergerak paling cepat di antara negara Asia di seluruh kategori, baik internet banking, smartphone, dan digital secara keseluruhan,” terang Partner McKinsey Indonesia Guillaume de Gantes, kemarin (11/2).

Dari paparannya, jumlah pengguna smartphone di Indonesia mencapai 124 juta menempati urutan ketiga di Asia Pasifik, setelah Tiongkok dan India. 74% di antaranya adalah pengguna Android. Lalu, jumlah pengguna internet mencapai 133 juta atau 51% dari total populasi. Sebanyak 106 juta orang Indonesia atau 40% dari total populasi memiliki akun Facebook dan 41% pengguna smartphone telah melakukan belanja online.

Lalu kenapa dari sektor Fintech Indonesia baru 5% pergerakan atau penetrasinya? Hal ini karena ekosistem digital yang belum matang serta pola masyarakat Indonesia mengkonsumsi produk digital banking perbankan yang agak berbeda dengan negara Asia lain. Jika di negara lain loyalitas nasabah menggunakan produk jasa tertentu rendah, di Indonesia menunjukkan hal sebaliknya, orang Indonesia masih menyukai transaksi tunai ketimbang non tunai. Oleh karena itu Indonesia butuh beberapa tahun lagi untuk mencapai dua digit penetrasi disektor Fintech melampaui negara tetangga, menurut Gantes selaku Partner McKinsey Indonesia.

Adapun alasan mengapa layanan keuangan digital lebih melesat dibandingkan dengan Fintech karena perilaku mengonsumsi suatu produk dipengaruhi oleh aspek komunitas yang kental di Indonesia. Orang Indonesia akan memilih menggunakan produk setelah mendapat validasi dari orang terdekat atau lingkungan sosialnya, itulah mengapa Indonesia tumbuh begitu cepat.

Partner McKinsey Indonesia Bruce Delteil menambahkan bahwa penetrasi Fintech di tiap negara itu berbeda karena dipengaruhi oleh tiga faktor. Pertama, melihat dari seberapa dalam penetrasi digitalnya. Berikutnya, seberapa besar ketergantungan masyarakat terhadap uang tunai. Terakhir, proporsi produk digital yang tersedia. Indonesia saat ini ketersediaan produk Fintech masih didominasi oleh berbasis sistem pembayaran dan tabungan. Semakin mendalamnya variasi produk Fintech tentunya akan mendorong tingkat penetrasi. Diprediksi produk yang berbasis pinjaman dan asuransi bakal memiliki panggung di Indonesia.

Untuk mengatasi masalah ini, McKinsey berharap untuk terus melakukan berkolaborasi antara Fintech dengan perbankan. Kolaborasi antara kedua belah pihak untuk saling memanfaatkan peluang yang besar dalam dunia digital. Teknologi semakin berkembang bukan berarti menimbulkan persaingan tetapi membuat teknologi bisa bermanfaat untuk kedua pihak dan mencapai tujuan membuat inklusi keuangan Indonesia meningkat serta menguntungkan semua pihak.

Yang perlu kita pahami adalah menyikapi tumbuh pesatnya layanan keuangan digital di Indonesia tidak sebanding dengan penetrasi Fintech di Indonesia, padahal pengguna jumlah pengguna smartphone di Indonesia mencapai 124 juta menempati urutan ketiga di Asia Pasifik, setelah Tiongkok dan India. Jumlah pengguna internet mencapai 133 juta atau 51% dari total populasi dan 41% pengguna smartphone telah melakukan belanja online. Dari data tersebut agar penetrasi disektor Fintech di Indonesia mencapai dua digit melampaui negara tetangga, perbankan untuk lebih masif mengadopsi digital untuk menarik nasabah baru dan membangun loyalitas pada pelanggan yang sudah ada sedangkan di sisi teknologi membantu menjangkau nasabah terdalam yang selama ini sulit di jangkau bank.

Tinggalkan Balasan